Mengapa Harus Gen Z?
Hallo teman-teman, ulasan kali ini penulis akan membahas mengenai Generasi Z atau biasa kita sebut "Gen Z" yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan dunia, alasan penulis memilih topik ini karena akhir - akhir ini banyak sekali yang memperbincangkan tentang perilaku Gen Z.
Dalam konten ini tidak bermaksud untuk menyudutkan atau memberikan penilaian sepihak, namun hanya ingin introspeksi, dikarenakan penulis juga salah satu dari Gen Z karena berasal dari angkatan kelahiran tahun 1998.
Ingin mengetahui lebih dalam dari konten Mengapa harus Gen Z? Mari kita bersama simak ulasannya!
Gen Z adalah orang - orang yang berasal dari kalangan yang terlahir di antara tahun 1997 hingga 2012, dan disebut - sebut sebagai generasi yang memiliki kecemasan tertinggi, mengapa demikian?
Berdasarkan dari buku "The Anxious Generation" karya Jonathan Haidt menyimpulkan bahwasanya Gen Z terlahir ketika jaman perkembangan teknologi yang sangat cepat, yakni pada tahun 2010 - 2015 terjadi revolusi hebat terhadap perkembangan gadget smartphone, saat itu anak - anak kalangan Gen Z terkena dampak, sehingga terlena untuk menikmati kecanggihan smartphone yang merenggut masa - masa kecil mereka, karena mereka terlalu sibuk dengan penilaian banyak orang di sosial media atau ingin mendapat validasi yang positif.
Hal ini tentu sangat berpengaruh, karena akan berdampak ketika mereka berkembang menjadi dewasa yang tidak melewati masa kanak - kanak dengan wajar, yang seharusnya mereka nikmati masa kecil dengan bermain petak umpet, menerbangkan layangan, bersepeda, adu kelereng, dan aktivitas bermain secara tatap muka lainnya, namun justru lebih memilih untuk banyak memposting kegiatan harian mereka, dengan harapan mendapat pujian berupa "like" dan "comment" di setiap postingan, maupun status mereka di sosial media.
Kala itu semua sudah dimanjakan dengan perkembangan teknologi, dengan mengandalkan gadget, semua hal bisa dilakukan dengan cepat, dan praktis tanpa harus susah payah untuk mencapainya. Memiliki kebiasaan praktis akan meracuni diri sendiri sehingga terbentuk mental yang manja, cenderung bergantung dengan sesuatu, dan tidak tahan akan tekanan.
Hal - hal tersebut tentu disadari ketika mereka sudah beranjak dewasa, karena kepribadian mereka sudah terbentuk ketika masa - masa perkembangan teknologi, dan pada akhirnya akan menjadi refleksi ketika mereka dewasa, hingga teruji ketika saat berinteraksi dengan banyak orang.
Apalagi di dunia kerja, tidak heran jika banyak dari mereka yang menjadi momok bagi perusahaan ataupun instansi saat ini, karena mewaspadai kepribadian Gen Z yang mudah terombang - ambing oleh segala masalah, sehingga mereka banyak dianggap tidak profesional oleh rekan kerja. Karena standar bekerja di era kini adalah orang - orang yang mampu bekerja dibawah tekanan.
Sudah menjadi kewajiban bagi orangtua yang memiliki anak - anak dengan kriteria Gen Z agar mereka lebih diperhatikan, karena mereka sudah terbiasa dengan Smartphone yang memiliki kecendrungan untuk selalu bermain sosmed tanpa henti, dan pada akhirnya berharap mendapat perhatian dari warganet yang mementingkan "human validation" ketimbang kesehatan diri sendiri, hal tersebut sungguh sangat toxic.Mungkin itu saja ulasan sederhana mengenai Gen Z yang ingin disampaikan oleh penulis, semoga dapat menyadarkan kita, dan teruntuk kalangan Gen Z agar lebih banyak banyak introspeksi, berhentilah mengejar validasi dari banyak orang, dan mulai fokus untuk mencintai diri sendiri dengan selalu melakukan hal - hal yang dapat mengembangkan potensi dalam diri.
Kalian boleh menanggapi, dan mengoreksi kembali di kolom bawah komentar, apabila ada pernyataan yang salah ataupun kurang jelas.
Semoga informasinya bermanfaat untuk anda, sekian dan terima kasih.







Informasi yang sungguh informatif 👏
BalasHapusTerimakasih, kakak Sharone :)
Hapus